Melimpahnya keanekaragaman tumbuhan di Aceh Timur menjadi pemicu pemanfaatan tumbuhan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya untuk memenuhi kebutuhan pokok dan penghasilan. Masyarakat suku Gayo di Lokop, masih hidup berdampingan dengan alam, dan banyak memanfaatkan aneka jenis tumbuhan untuk penuhi kebutuhan pangan.

Mewawancarai 37 informan dari masyarakat, setidaknya 52 jenis tumbuhan didata oleh mahasiswa biologi, Ramaidani dan dosen sekaligus koordinator prodi biologi, Zidni Ilman Navia. Tumbuhan-tumbuhan itu dimanfaatkan dalam pembuatan lima hidangan lokal dan sembilan jajanan.

Salah satu hidangan khas diberi nama jurung pengat. Diambil dari nama lokal ikan jurung, hidangan ini merupakan salah satu sumber makanan kaya akan protein.

Padi merupakan tanaman terpenting dalam aneka hidangan dan makanan tersebut. Sembilan macam jajanan diketahui semuanya menggunakan padi, baik padi beras biasa atau padi beras ketan (glutinous rice).

Jahe-jahean, atau suku Zingiberaceae, merupakan famili dengan jumlah jenis paling banyak dimanfaatkan. Lengkuas (Alpinia galanga), palang (Etlingera elatior), baing (Zingiber officinale), dan lempuyang (Zingiber zerumbet), merupakan contoh jahe-jahean yang dimanfaatkan oleh suku Gayo di Lokop.

Masih dari studi yang sama, masyarakat di Lokop diketahui berperan aktif dalam pewarisan pengetahuan. Umumnya, pewarisan pengetahuan berharga ini dilakukan dengan cara menyuruh anak-anak muda untuk mencari tumbuhan, termasuk yang liar, untuk dijadikan bahan pangan. Para orang-orang tua kemudian membantu dalam pembuatan hidangan dan jajanan tradisional tersebut.

_____________________

Sumber:
Ramaidani, Navia ZI. 2022. Documentation of the traditional Gayo food in Lokop Village, East Aceh, Indonesia. Biodiversitas 23: 2017-2024

0 0 nilai
Penilaian artikel
Berlangganan
Notifikasi dari
guest
0 Komentar
Umpan balik per baris
Tunjukkan semua komentar