Popularitas mangrove di Kuala Langsa menjadi daya tarik tersendiri. Tak hanya wisatawan, mangrove yang ragam jenisnya banyak ini juga menarik para peneliti untuk mengkaji potensinya.

Salah satu potensi mangrove adalah menghasilkan metabolit sekunder. Metabolit sekunder ini berpotensi untuk dikembangkan menjadi berbagai bahan, salah satunya adalah bahan baku obat. Pada mangrove, produksi metabolit sekunder didukung oleh adanya aktivitas jamur yang hidup di antara sel-sel mangrove itu, atau dikenal sebagai jamur endofit.

Mengambil kesempatan penelitian jamur endofit di Kuala Langsa, mahasiswa dan dosen biologi mengambil tema identifikasi jamur endofit pada salah satu jenis bakau. Bakau yang dipilih adalah Rhizophora apiculata, suatu spesies yang tersebar luas di Indonesia. Di Indonesia, spesies ini dikenal dengan sebutan bakau minyak.

Penelitian yang dilakukan pada paruh pertama tahun 2019 itu menunjukkan hasil yang cukup baik. Setidaknya, teridentifikasi 5 jenis jamur endofit pada mangrove tersebut. Terdapat dua marga yang sampai saat ini sudah cukup populer di dunia biologi, yaitu Fusarium dan Aspergillus.

Diterbitkan pada jurnal Konservasi Hayati, April 2022, penelitian ini terbukti memiliki potensi pengembangan yang baik ke depannya. Selain menambah khasanah pengetahuan tentang jamur endofit dan potensi mangrove, ke depannya diharapkan akan ada inovasi yang diciptakan dari penemuan-penemuan ini. Dengan begitu, mangrove di Kota Langsa akan menjadi lebih dari objek wisata dan paru-paru kota di pesisir timur Aceh.

________________________

Sumber:

Niagita RK CK, Mardina V, Fadhliani. 2022. Isolasi dan Karakterisasi Morfologi Fungi Endofit Asal Mangrove Rhizophora apiculata Blume. Konservasi Hayati, 18 (1): 26-30.

Foto: Public Domain / Wikimedia.

0 0 nilai
Penilaian artikel
Berlangganan
Notifikasi dari
guest
0 Komentar
Umpan balik per baris
Tunjukkan semua komentar