Anggrek merupakan famili tumbuhan terbesar kedua di dunia, setelah Asteraceae, dengan total jenis yang diketahui lebih dari 25.000. Indonesia menjadi salah satu pusat keanekaragaman dengan jumlah di atas 3.800 jenis. Meskipun jumlahnya yang sangat besar, spesies baru terus-menerus ditemukan hingga sekarang.

Bekerja sama dengan peneliti dari Yayasan Rangkong Indonesia, Yayasan Akar Banir Indonesia, dan Yayasan Konservasi Biota Lahan Basah, Wendy A. Mustaqim, ikut serta dalam penemuan spesies baru anggrek dari Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Anggrek dengan nama ilmiah Bulbophyllum sungaiutikense F.H.Kurniawan, Yudistira & Mustaqim ini diberi nama dari sebuah nama desa yang belakangan ini terkenal dengan perjuangan pengesahan hutan masyarakat Adat Dayak Iban – Sungai Utik.

Bunga dari anggrek ini berukuran cukup besar dengan diameter mendekati 4 cm, dengan ciri khas memiliki labellum yang panjang seperti ekor.

Bulbophyllum sungaiutikense merupakan anggrek yang hidup di dataran rendah, pada ketinggian di bawah 100 m dpl. Sebelum hutan di kawasan tersebut diakui sebagai salah satu hutan adat, ancaman datang dari berbagai aktivitas seperti pembukaan hutan untuk kebun sawit. Dengan ditetapkannya hutan adat di habitat anggrek itu, setidaknya masyarakat akan memiliki peran signifikan dalam menjaga kelestarian anggrek endemik Kapuas Hulu ini.

 

Sumber:
Kurniawan FH, Yudistira Y, Mustaqim WA. 2022. A new species of Bulbophyllum (Orchidaceae: Epidendroideae) from Kalimantan Barat, Indonesia. Phytotaxa 544 (1): 89–94.

Photo by Firman H. Kurniawan (firman_hakaa)

0 0 nilai
Penilaian artikel
Berlangganan
Notifikasi dari
guest
0 Komentar
Umpan balik per baris
Tunjukkan semua komentar